Environmental Analyst Training on Clean Energy of Banking Industry to Promote Financial Enviromental Sustainability Implementation in Indonesia

  • (This opinion is available only in Bahasa Indonesia.) Sejak tahun 2015 LPEM FEB UI menjalin kemitraan dengan OJK dan USAID – ICED II untuk menyelenggarakan Training Analis Lingkungan untuk Sektor Perbankan. Sebanyak 5 batch training diselenggarakan di berbagai lokasi di Indonesia, yang ditujukan untuk mendorong sektor perbankan meningkatkan portofolio hijaunya, terutama dalam sektor energi terbarukan. Training disusun sedemikian rupa sehingga peserta memahami apa yang dimaksud dengan keuangan berkelanjutan, bagaimana regulasi lingkungan dan energi terbarukan di Indonesia, dan bagaimana melakukan penilaian kredit untuk sektor energi terbarukan. Sektor energi terbarukan yang dimaksud adalah PLTMH, PLTS, PLTBG POME. Selain diberikan dalam bentuk active lecturing dan diskusi studi kasus, peserta juga melihat langsung bagaimana bisnis itu dijalankan melalui kegiatan site visit ke lokasi pembangkit. Beberapa modul telah disusun oleh peneliti LPEM FEB UI yang sekaligus menjadi nara sumber dalam training tersebut. Modul training disusun oleh LPEM FEB UI melalui kegiatan riset yang berupa studi pustaka, wawancara dengan konsultan teknis energi bersih serta analis bank yang mempunyai pengalaman dalam melakukan penilaian kredit pada bisnis energi bersih. Untuk memperluas target partisipan training, OJK dan USAID ICED II membuat acara khusus berupa serah terima modul kepada beberapa universitas (UI, UGM, UNPAD, IPB, Universitas Trisakti, LPPI) dalam International Seminar on Sustainable Finance (ISSF) pada tanggal 1-2 Desember 2016 di Bali. Dengan diserahterimakan modul training kepada beberapa universitas dan lembaga pendidikan, diharapkan semakin banyak institusi yang memberikan pengembangan kapasitas kepada sektor perbankan tentang keuangan berkelanjutan dan pembiayaan energi bersih. Informasi lebih lanjut mengenai Keuangan Berkelanjutan bisa didapatkan dari tautan…
    22 Dec
    22 Dec
  • (This opinion is available only in Bahasa Indonesia.) Bekerja sama dengan ILO (International Labour Organization), LPEM FEB UI melakukan studi mengenai penyandang disabilitas di pasar kerja Indonesia. Studi ini dilatarbelakangi oleh dipublikasikannya SAKERNAS (Statistik Ketenagakerjaan Nasional) 2016 yang pertama kalinya mengakomodir pertanyaan tentang disabilitas. Walaupun hanya satu pertanyaan yang dimasukkan dalam kuesioner terbaru SAKERNAS, tetapi memungkinkan Tim Riset untuk melakukan studi yang cukup komprehensif tentang prevalensi disabilitas, distribusi per wilayah, karakteristik penyandang disabilitas serta yang paling penting kondisi penyandang disabilitas di pasar kerja Indonesia. Ringkasan dari hasil studi dapat dilihat pada lembar fakta. (Download di sini) Studi ini sangat relevan untuk dilakukan mengingat dikeluarkannya Undang-Undang terbaru tentang Penyandang Disabilitas pada tahun 2016. Di dalam UU tersebut, perusahaan swasta mendapat kewajiban untuk mengakomodir penyandang disabilitas sebanyak 1% dari total pekerjanya, dan kewajiban sebesar 2% untuk sektor pemerintah dan BUMN/BUMD. Pada tanggal 16 Desember 2016, ILO bersama dengan beberapa perusahaan meluncurkan Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia. Saat ini terdapat beberapa perusahaan yang aktif dan menjadi pionir untuk mempekerjakan penyandang disabilitas. Di forum tersebut setiap perusahaan saling berbagi bagaimana proses mereka merekrut, menyediakan fasilitas, menyelenggarakan training, sampai dengan membuat situasi kerja yang kondusif bagi penyandang disabilitas. Bagi LPEM FEB UI, ini merupakan riset ketiga terkait penyandang disabilitas. Ke depannya, riset terkait penyandang disabilitas terutama bagaimana mereka bisa optimal berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi di Indonesia mudah-mudahan akan lebih banyak lagi. Presentasi tim LPEM FEB UI di Forum Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia, 16 Desember 2016 Hasil studi menunjukkan bahwa partisipasi angkatan kerja…
    21 Dec
    21 Dec
  • (This opinion is available only in Bahasa Indonesia.) Fenomena Brexit dan Pelajaran Bagi Kerjasama Kawasan Kiki Verico*   Tanggal 23-24 Juni 2016 menjadi sejarah bagi UK dan Uni Eropa (UE) karena baru pertama kali UE kehilangan anggota akibat referendum di negara anggotanya. UK keluar dari UE setelah lebih dari 40 tahun bergabung. Peristiwa ini membuat nilai tukar pound sterling melemah tajam terhadap US$ dan Euro. PM David Cameron menyatakan mundur dan publik UK sepertinya terhenyak akan cepat dan besarnya dampak Brexit ini pada pasar uang dan politik domestik UK. Kini situasi menjadi serba tidak pasti sehingga belum dapat diketahui berapa lama dan berapa besar dampak Brexit pada UK, UE dan dunia karena memang baru pertama kali ini negara anggota keluar dari UE. Ada dua fenomena menarik sesaat setelah referendum. Pertama, banyaknya pengguna internet di UK yang mencari tahu tentang apa itu UE. Kedua, munculnya petisi yang meminta agar referendum diulang. Ekonom Kenneth Arrow melalui teori ketidakmungkinan (impossibility theorem) pernah mengingatkan soal konsekuensi tak terduga pada pengambilan keputusan dengan metode suara terbanyak atas pilihan yang membutuhkan pengetahuan mengingat adanya kesenjangan informasi antarpemilih. Bisa jadi fenomena di atas menunjukkan bahwa tidak semua pemilih memahami tentang UE dalam kaitannya dengan Brexit. Peran Penting UK Secara ukuran ekonomi UK adalah negara ketiga terbesar di UE setelah Jerman dan Perancis. UK adalah penerima investasi terbesar UE di mana separuh dari total investasi UK berasal dari UE. Sekitar 60 persen dari total investasi tersebut dialokasikan untuk sektor jasa. Hal ini terkait dengan kekuatan UK pada sektor…
    13 Jul
    13 Jul
  • Why has Indonesia decided to join an economic cooperation? Kiki Verico* Abstract This short article attempts to briefly respond the above question based on Indonesia’s experience in the past. To date, Indonesia has implemented a vast number of economic cooperation at various levels. At the global level, it has joined and ratified the World Trade Organization (WTO) (Law No. 7/1994). Regionally, it is one of the Association of South East Asian Nations (ASEAN) founding members. While at the sub-regional level, Indonesia is member to the International Tripartite Rubber Organization (ITRO) together with Malaysia and Thailand and the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) established by Indonesia and Malaysia. Indonesia also has bilateral cooperation with various countries such as Japan (Indonesia – Japan Economic Partnership), Pakistan (Indonesia – Pakistan PTA), Korea (IKCEPA), European Free Trade Association (IECEPA), Iran (IIPTA), Australia (IACEPA) and Chile (ICCEPA), and it implements unilateral liberalization under the IMF supervision due to the AFC (Asian Financial Crises) that affected Indonesia’s economy in 1997. In addition to being a member state of ASEAN, Indonesia is also involved in ASEAN’s enlargement with big economic partners such as China, Japan, Korea, Australia, New Zealand and India. This article focuses on the influence of these economic cooperation on Indonesia, in particular the bilateral, regional and regional plus of ASEAN as well as the newly established Trade Pacific Partnership (TPP). Whereas the multilateral economic cooperation of WTO is taken as given and unilateral is considered a self-liberalization, not a cooperation or dependent…
    01 Apr
    01 Apr