MACROECONOMIC ANALYSIS SERIES: Indonesia Economic Outlook 2020

  • Since March 2019, the US bonds market has recorded an inverted yield curve, meaning that the yields of short-term bonds have surpassed those of long-term bonds. This condition indicates a negative perception of the US’s economic performance as the inverted slope of the yield curve is very frequently correct in predicting the occurrence of recession in the near future. Even though the transmission channel of the potential global shocks to the domestic economy by capital flow channel would not yet clearly materialize in 2020, the rising concern of recession that would take place in US  may spark speculative attacks in the foreign exchange and capital market. The speculative attack will notably affect Indonesia’s financial system by  triggering capital outflows, giving substantial pressure to Rupiah. However, if the government and Bank of Indonesia (BI) could manage expectations of the market, it will drive capital to flow back to Indonesia after the turbulence period ends. We expect BI might, at least, lower the policy rates one more time and then hold it in 2020 until the volatility of Rupiah requires hikes in 2020. The currently ongoing monetary easing will provide some  support for the credit growth in 2020.…
    05 Nov
    05 Nov
  • Meningkatnya tingkat inflasi umum secara mom terjadi selama periode Oktober 2019, dengan level inflasi terkait yang mengalami kenaikan dari levelnya yang sebelumnya pada -0.27 persen mom (September 2019) menjadi 0.02 persen mom (Oktober 2019). Hal ini diperkirakan didorong oleh meningkatnya level inflasi barang inti, yang kembali menunjukkan tren positif sebesar 0.17 persen mom, serta harga diatur pemerintah yang menunjukkan peningkatan yang kecil sebsear 0.03 persen mom. Sementara itu, barang harga bergejolak masih meneruskan tren penurunan sejak Agustus 2019. Secara mom, level inflasi barang bergejolak mengalami penurunan sebesar -0,47 persen mom. Di tengah penurunan level inflasi yang terlihat, kami masih mempertahankan prediksi nilai inflasi yoy pada akhir tahun sebesar 3,4-3,6 persen, dengan prediksi penguatan konsumsi pada kuarter terakhir tahun 2019.…
    02 Nov
    02 Nov
  • Neraca perdagangan non-migas Indonesia pada September 2019 mencatat surplus USD0,60 miliar, belum mampu menutup defisit neraca migas USD0,76 miliar, sehingga neraca perdagangan Indonesia secara total mencatat defisit USD0,16 miliar. Defisit September 2019 ini disebabkan meningkatnya volume barang impor walaupun harga barang impor secara agregat mengalami penurunan yang relatif lebih besar dibandingkan penurunan harga barang ekspor.…
    28 Oct
    28 Oct
  • As the signs of economic slowdown in the US becoming stronger, the Fed has started to exert some efforts to alleviate the potential risk by cutting Fed funds rate target twice since July FOMC meeting. This, in turn, has provided other central banks more opportunities to take similar actions. BI has reduced its policy rates three times since Board of Governors’ meeting in July. BI accommodative monetary policy is also responding to the increased concerns over the slowing down of the domestic economic activities.…
    24 Oct
    24 Oct
  • Pada bulan September 2019, harga barang bergejolak kembali mengalami penurunan. Tidak hanya mengalami penurunan secara month-to-month, pada bulan ini harga barang bergejolak juga mengalami penurunan apabila dilihat secara year-on-year.  Penurunan harga barang bergejolak secara langsung menyebabkan terjadinya deflasi harga barang umum secara month-to-month sebesar 0.27%. Tidak hanya komponen barang bergejolak, komponen barang inti juga mengalami penurunan (menjadi 0.29% mtm), yang dapat mengindikasikan terjadinya pelemahan konsumsi dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini kemudian memberikan kontribusi terhadap menurunnya inflasi umum di bulan September 2019 hingga berada pada tingkat 3.39% (yoy), dari tingkat 3,49% pada bulan sebelumnya. Hingga saat ini, kami masih terus mempertahankan outlook inflasi kami pada kisaran 3,4%-3,6% di akhir tahun 2019, karena meskipun terdapat pelemahan konsumsi pada bulan ini, kami tetap melihat adanya sentimen ketidakpastian global yang menetap serta resiko peningkatan harga minyak global sebagai akibat dari insiden penyerangan pada fasilitas minyak Saudi Aramco yang terjadi pada pertengahan bulan September 2019.…
    03 Oct
    03 Oct
  • Unexpected rate cut last month implies BI’s concern over the risks of curbing domestic growth, prompting BI to shift its policy stance to one that preemptively supports growth.  Inflation is low and stable. Despite the lower-than-expected economic growth in the Q2 2019 (5.05%), the domestic economy is still perceived relatively favorably by foreign investors despite.  On the external side, the relaxing tension of US-China Trade War and the probability of Fed funds rate cut at the upcoming FOMC meeting has partly contributed to the influx of portfolio investment. On the current account performance, we see some signs of improvement to bring the CAD to be more managable until the end of the year. These developments should open space room for BI to ease its monetary policy further. We view that BI should continue the easing stance with another 25bps rate cut this month.…
    19 Sep
    19 Sep
  • Harga barang bergejolak yang cenderung mengalami penurunan terus berkontribusi dalam membuat inflasi berada di tingkat yang rendah sesuai dengan prediksi sebelumnya, secara spesifik pada level 0,12% (mtm). Namun jika dilihat secara year on year, harga barang bergejolak lebih tinggi hampir mencapai 6% dibandingkan tahun lalu yang menyebabkan inflasi umum berada pada tingkat 3,49% (yoy). Pergerakan inflasi inti yang sedikit meningkat memberikan indikasi bahwa tren pertumbuhan konsumsi cenderung mengalami peningkatan, setelah sebelumnya mengalami peningkatan dan penurunan dari 3,25% di bulan Juni, lalu 3,18% pada bulan Juli serta 3,30% pada bulan Agustus. Hingga saat ini kami masih juga mempertahankan outlook inflasi di kisaran 3,4-3,6% di akhir tahun 2019.…
    09 Sep
    09 Sep
Goto :