SERI ANALISIS EKONOMI: TRADE AND INDUSTRY BRIEF, Februari 2021

  • Ketergantungan industri Indonesia terhadap bahan baku, bahan penolong dan barang modal impor menjadi salah satu kendala akselerasi pertumbuhan ekonomi secara umum dan industri pengolahan secara khusus. Meskipun selama pandemi Covid-19 neraca perdagangan mencatat surplus yang besar, tetapi dalam jangka menengah dan panjang penguatan rantai pasok dan produksi hulu dalam negeri mutlak diperlukan. Tidak mengherankan jika pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mencanangkan target substitusi impor bahan baku, bahan penolong serta barang modal sebesar 35 persen pada akhir 2022. Dengan total nilai impor barang input senilai IDR434 triliun tahun 2019, target pengalihan produksi barang input ke industri domestik setara dengan IDR153 triliun. Trade and Industry Brief bulan ini membahas tantangan untuk pencapaian target substitusi impor tersebut.…
    22 Feb
    22 Feb
  • Kenaikan harga kedelai yang diakibatkan terganggunya sistem logistik selama pandemi COVID-19 memberikan imbas cukup besar bagi ketersediaan kedelai di Indonesia. Dengan jumlah konsumsi mencapai 3-3,5 juta ton per tahun dan tingkat produksi dalam negeri hanya 950 ribu ton per tahun, Indonesia sangat bergantung kepada impor kedelai. Kelangkaan kedelai ini pada gilirannya berdampak pada industri tahu-tempe. Trade and Industry Brief Januari 2021 ini membahas tren ekspor dan impor serta kondisi rantai pasok kedelai di Indonesia. Secara umum, kinerja dan produktivitas kedelai di Indonesia sangat rendah karena rendahnya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. Rendahnya produktivitas petani juga menandakan gagalnya swasembada kedelai yang dicanangkan pemerintah enam tahun yang lalu. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam jangka pendek dan panjang. Pada jangka pendek, pemerintah dapat memastikan ketersediaan kedelai dengan membangun sistem pemantauan stok di gudang pedagang serta mengidentifikasi kemampuan petani lokal. Pada jangka panjang, upaya dapat diarahkan pada produksi kedelai berkualitas tinggi, penggunaan varietas bibit unggul, dan perbaikan keseluruhan rantai produksi untuk menciptakan insentif ekonomi bagi petani.…
    18 Jan
    18 Jan
  • Tahun 2020 akan menjadi tahun yang sulit untuk dilupakan oleh banyak orang karena dunia dan Indonesia dihadapkan kepada dua krisis pada saat yang bersamaan: krisis kesehatan dan krisis ekonomi sebagai imbas dari pandemi COVID-19. Menghadapi 2021, pemulihan ekonomi masih menjadi tantangan, tetapi titik terang terdapat pada neraca perdagangan yang hingga November secara kumulatif mencatat surplus 19,7 miliar USD dan beberapa sektor industri yang masih tumbuh selama pandemi, yaitu Makanan dan Minuman, Kimia dan Farmasi, serta Logam Dasar.…
    17 Dec
    17 Dec
  • Mantan wakil presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden dan senator Kamala Harris memenangi pemilu AS setelah berhasil meraih suara elektoral sebanyak 306. Kemenangan Biden-Harris tentunya akan berimplikasi tidak hanya terhadap kebijakan dalam negeri AS, tetapi juga bagi kebijakan luar negeri dan perdagangan dunia. Trade and Industry Brief edisi November ini melihat kemungkinan dampak dari kemenangan Biden-Harris bagi perekonomian Indonesia. Secara umum, isu perang dagang AS-Tiongkok diperkirakan masih menjadi isu utama yang akan mempengaruhi tren perdagangan global. Perang dagang yang telah dimulai semenjak pemerintahan Trump ini telah memberikan dampak yang cukup positif bagi ekonomi Indonesia. Dengan terpilihnya Biden, Indonesia perlu tetap memastikan agar investasi dari AS-Tiongkok tidak mengalami penurunan. Selain itu, Indonesia juga perlu menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua negara raksasa tersebut.…
    17 Nov
    17 Nov
  • Pada tanggal 5 Oktober 2020, DPR RI telah mengesahkan Omnibus law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang yang mengundang respon beragam dari berbagai lapisan masyarakat. Salah satu tujuan dari dilahirkannya UU Cipta Kerja adalah untuk mengatasi masalah investasi yang dianggap mengganggu perekonomian nasional. Trade and Industry brief bulan ini akan membahas isu-isu terkait investasi, khususnya mengenai perkembangan investasi, hambatan yang terjadi serta apakah UU Cipta Kerja bisa menjadi jawaban dari permasalahan investasi yang ada. Secara umum UU Cipta Kerja telah menjawab sebagian tetapi belum sepenuhnya bisa mengatasi permasalahan investasi di Indonesia. Terdapat beberapa isu yang menghambat investasi di Indonesia, seperti aturan yang begitu banyak dan tumpang tindih, isu korupsi dan problem kelembagaan yang menghambat investasi. Sayangnya, isu-isu ini tidak sepenuhnya dibahas dalam UU Cipta Kerja. Pendekatan perizinan berdasarkan risk-based approach yang diatur dalam UU Cipta Kerja berpotensi menimbulkan masalah baru nantinya. Isu yang perlu diperhatikan dan juga luput dari UU Cipta Kerja adalah masih rendahnya efisiensi penggunaan modal dalam proses produksi. Dengan masih banyaknya potensi loophole di UU Cipta Kerja, maka yang saat ini dibutuhkan adalah upaya untuk sama-sama menjaga agar peraturan turunan (PP/Perpres) bisa menjawab kekurangan yang terdapat dalam versi saat ini.…
    20 Oct
    20 Oct
  • Industri manufaktur Indonesia mulai mengalami perbaikan kinerja setelah sebelumnya terkena dampak yang cukup signifikan akibat pandemi COVID-19. Hal ini ditandai dengan dirilisnya nilai Purchasing Managers’ Index (PMI) pada bulan Agustus 2020 yang menyentuh angka 50,8. Nilai ini menunjukkan terjadi perbaikan kinerja dibandingkan bulan sebelumnya. Angka pada bulan Agustus ini juga sangat menggembirakan setelah sebelumnya semenjak bulan April 2020, indeks PMI Indonesia selalu di bawah angka 50. Trade and Industry Brief edisi September ini ingin membahas kondisi industri manufaktur Indonesia. Meskipun telah terjadi perbaikan dari sisi kinerja, namun dengan diberlakukannya kembali PSBB di DKI Jakarta serta masih minimnya fokus pemerintah terhadap pemulihan industri manufaktur, maka dapat dipastikan bahwa kinerja sektor ini belum akan optimal.…
    20 Sep
    20 Sep
  • Badan Pusat Statistik (BPS) melansir angka-angka output perekonomian Indonesia pada triwulan kedua 2020 awal Agustus ini. Seperti yang telah diprediksi oleh banyak pihak, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kontraksi sebesar -4,19 (q-on-q) dan -5,32 (y-on-y) pada triwulan kedua 2020. Hal ini tentunya merupakan imbas dari pandemi COVID-19 yang mengganggu roda perekonomian baik di tingkat global maupun secara nasional. Trade and Industry Brief edisi Agustus ini ingin membahas kondisi pertumbuhan PDB Indonesia menurut lapangan usaha. Brief ini akan memberikan gambaran lapangan usaha yang berkontribusi terhadap penurunan PDB dan sektor apa saja yang mengalami pertumbuhan PDB pada triwulan kedua 2020.…
    19 Aug
    19 Aug
Goto :