Pimpinan Terdahulu

 
Prof. Dr. J.E. Ismael (1961-1963)

Prof. Dr. J.E. IsmaelProf. Dr. J. E. Ismael menyelesaikan masa baktinya sebagai direktur eksekutif IMF untuk Cambodia, Fiji, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapore, Thailand, Tonga, dan Vietnam, pada 31 Oktober, 1996. Beliau juga merupakan Profesor penuh pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Beliau menjadi kepala Departemen Ilmu Studi Pembangunan (sekarang namanya menjadi Ilmu Ekonomi) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia dari tahun 1968 sampai dengan tahun 1970.

Dia merupakan seorang ekonom yang handal dengan pengalaman yang bervariasi di lembaga-lembaga tingkat nasional dan internasional. Dia juga merupakan kolega dekat dari begawan Ekonom Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo. Mereka pernah menulis buku bersama dengan judul, “Pemerintah, Ekonomi, dan Pajak dari Sebuah Desa di Jawa Tengah” (1959) yang telah diterjemahkan oleh Norbert Ward dan dipublikasikan oleh Cornell University, Amerika Serikat.

 
 
Prof. Dr. Mohammad Sadli 

Prof. Dr. Mohammad SadliProf. Dr. Ir. Mohammad Sadli merupakan seorang ekonom senior yang ikut berperan penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia, terutama pada era pemerintahan Orde Baru. Keterlibatan Sadli dalam pemerintahan dimulai sebagai anggota tim penasihat ekonomi Presiden Soeharto. Pada tahun-tahun pertama Orde Baru, Mohammad Sadli dipercaya menjadi Menteri Tenaga Kerja pada Kabinet Pembangunan I (1971-1973), Ketua Komite Penanaman Modal Asing (PMA), lalu menjabat sebagai Menteri Pertambangan dalam Kabinet Pembangunan II (1973-1978).

Ekonom yang bergelar insinyur teknik ini dikenal juga sebagai pengamat ekonomi. Sebelumnya, Sadli adalah seorang ahli teknik. Ia memperoleh gelar insinyur dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, serta meraih M.Sc. dari Institut Teknologi Massachusetts, Amerika Serikat. Beralih minat ke bidang ekonomi, ia pun melanjutkan pendidikannya di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Kemudian ia mengajar di Universitas Indonesia sejak tahun 1953, perguruan tinggi yang kemudian memberinya gelar doktor Ilmu Ekonomi sekaligus Anugerah FEUI Lifetime Achievement Award terhadap Profesi Ekonom. Dalam ulasan-ulasannya, Sadli menyampaikan kritik yang berimbang dan senantiasa menggunakan optimisme.

Setelah tidak menjabat di pemerintahan, ia bekerja sebagai Penasihat Bapindo (1978), Presiden Komisaris PT. Aneka Tambang (1979), Presiden Komisaris PT. Air Indonesia Transport (1979), Anggota Komite Perencanaan Pembangunan PBB (1984), dan Sekjen Kamar Dagang & Industri Indonesia (1982-1985). Di samping selalu dimintai pendapat tentang perkembangan ekonomi, Prof. Dr. Ir. Mohammad Sadli sejak tahun 1984 menjadi anggota Komite Perencanaan Pembangunan PBB dan juga aktif menulis di sejumlah media cetak dan surat kabar, seperti Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo. Prof. Moh Sadli wafat pada usia 85 tahun di bulan Januari tahun 2008.

 
Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (1955-1957)

Prof. Dr. Widjojo NitisastroProf. Dr. Widjojo Nitisastro dikenal sebagai arsitek utama perekonomian di masa pemerintahan Orde Baru. Peran penting itu kembali beliau emban ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di tahun 1997. Tak heran jika Majalah Newsweek menyebut pendiri Lembaga Demografi FEUI ini sebagai “orang yang tak diragukan lagi memiliki dampak individual terbesar dalam perekonomian Indonesia”. Prof. Widjojo adalah alumni FEBUI yang lulus dengan predikat Cum Laude. Setelah itu, beliau melanjutkan studi ekonomi dan demografi di University of California di Berkeley dan dalam 3,5 tahun memperoleh gelar Ph.D. di bidang Ilmu Ekonomi pada universitas yang sama.

Prof. Widjojo yang santun dan memiliki pemikiran tajam ini, telah banyak dipercaya untuk melaksanakan tugas–tugas penting di bidang akademik dan kenegaraan. Sejak tahun 1953 beliau sudah menjadi perencana pada Badan Perencanaan Negara. Sempat menjadi Direktur LPEM dan Dekan FEBUI (1964-1968), anggota Governing Council of United Nations Institute of Development (1967), Ketua Bappenas (1967-1971) sebelum diangkat menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (1971-1973) dan Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas (1973-1978 dan 1978-1983).

Setelah itu beliau tetap aktif menjadi Penasehat Ekonomi Presiden. Widjojo sering dianggap sebagai pemimpin Mafia Berkeley — julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan — yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia pada masa awal pemerintahan Presiden Soeharto. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid menjabat Presiden, Widjojo diminta untuk memimpin Tim Ekonomi Indonesia pada pertemuan Paris Club di pertengahan April tahun 2000. Misi tim ini adalah untuk membicarakan penjadwalan kembali pembayaran utang Republik Indonesia. Permintaan tim ini disetujui kelompok donor yang beranggotakan 19 negara. Ekonom Profesor Mohammad Sadli memuji peranan Widjojo Nitisastro dalam keberhasilan tim tersebut. Menurut Sadlli, 95 persen kerja delegasi Indonesia adalah berdasarkan arahan Widjojo.

Kerja kerasnya yang tanpa pamrih membuat beliau menerima berbagai tanda penghargaan dan bintang jasa. Namun beliau tetaplah merupakan seorang intelektual sejati yang memikirkan kemajuan pendidikan. Beliaulah orang pertama yang mengusulkan pembangunan Kampus Baru UI. Sangatlah pantas apabila banyak tokoh menganggap beliau sebagai primus inter pares, ‘yang pertama di antara yang pertama’. Prof. Dr. Widjojo Nitisastro meninggal di Jakarta pada umur 84 tahun di bulan Maret Tahun 2012.

 
Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo (1953-1955)

Prof.Dr. Sumitro DjojohadikusumoProf. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo adalah seorang begawan ekonomi Indonesia yang sangat terkenal dalam sejarah Republik Indonesia. Soemitro adalah ayah dari Mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto, ayah mertua dari mantan Gubernur Bank Indonesia, Soedrajad Djiwandono, dan juga besan dari mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Soemitro sendiri adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPAS pertama dan anggota BPUPKI.

Soemitro memulai karirnya sebagai Pembantu Staf Perdana Menteri RI Sutan Syahrir (1946), Presiden Direktur Indonesian Banking Corporation (1947), dan Kuasa Usaha KBRI di Washington, D.C. (1950). Dalam kabinet pemerintahan Republik Indonesia, posisi yang pernah diembannya adalah sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian RI di Kabinet Natsir (1950-1951), Menteri Keuangan RI di Kabinet Wilopo (1952-1953), Menteri Keuangan RI di Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956), Menteri Perdagangan RI di Kabinet Pembangunan I (1968-1973), dan terakhir Menteri Riset di Kabinet Pembangunan II (1973-1978).

Prof. Soemitro merupakan salah satu contoh pemimpin yang mampu ‘menelurkan’ calon-calon ekonom generasi penerus, yang kelak terbukti sukses mengemban amanah sebagai menteri Republik Indonesia di bidang perekonomian. J. B. Sumarlin, Ali Wardhana, dan Widjojo Nitisastro merupakan murid-murid beliau. Dua nama terakhir bahkan pernah meneruskan tongkat estafet kepemimpinan beliau di LPEM FEBUI. Pada tahun 2001, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo wafat pada usia 83 tahun.


| 1 | 2 | 3 | 4 |



Share this: