SERI ANALISIS MAKROEKONOMI: Inflasi Bulanan, Desember 2020

  • Inflasi (YoY) pada bulan November 2020 kembali mencatatkan peningkatan sebesar 0,15 bps relatif terhadap bulan sebelumnya, hingga menjadi sebesar 1,59%. Kendati demikian, data menunjukkan bahwa peningkatan inflasi tersebut lebih disebabkan oleh kontraksi dari sisi pasokan (supply) ketimbang perbaikan pada sisi permintaan atau daya beli masyarakat. Inflasi barang bergejolak, yang mengandung inflasi komoditas pangan, mengalami peningkatan sebesar 0,89 bps dibandingkan bulan sebelumnya, hingga menjadi sebesar 2,29% (MtM). Kami berpendapat bahwa naiknya inflasi pada komponen bergejolak disebabkan oleh musim penghujan yang menghambat proses distribusi pada rantai pasok komoditas pangan.…
    02 Des
    02 Des
  • Indonesia secara resmi mengalami resesi sejak krisis keuangan Asia 1998 dengan kondisi ekonomi yang kembali mengalami kontraksi di Triwulan-III 2020 sebesar -3,49% (y.o.y), meskipun lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Pemerintah perlu mempercepat implementasi kebijakan stimulus, khususnya untuk mencegah kelompok masyarakat yang kehilangan pekerjaan agar tidak jatuh dalam jurang kemiskinan dan menyelamatkan bisnis yang berada di ambang kebangkrutan, sambil melanjutkan beberapa langkah mitigasi pandemi Covid-19 agar perekonomian kembali pulih sepenuhnya dari pertumbuhan suramnya di tahun 2020. Inflasi masih berada di bawah ekspektasi dengan tanpa adanya tanda-tanda tekanan harga, yang menunjukkan lemahnya permintaan agregat yang berkepanjangan.…
    18 Nov
    18 Nov
  • Aktivitas ekonomi terus merosot pada Triwulan-II 2020 dimana pertumbuhan ekonomi anjlok menjadi 5,32% (y.o.y), jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan positif pada Triwulan-I 2020 sebesar 2,97%.  Krisis kesehatan telah menghentikan perekonomian di hampir semua sektor ekonomi dengan tiga sektor teratas perekonomian Indonesia (manufaktur, perdagangan grosir & eceran, dan konstruksi) mengalami pertumbuhan negatif yang lebih besar dibandingkan dengan perekonomian secara keseluruhan.  Selain itu, perlambatan ekonomi juga tercermin dari sisi pengeluaran, dimana pertumbuhan konsumsi rumah tangga turun menjadi -5,51% (y.o.y) dari pertumbuhan positif pada Triwulan-I 2020 sebesar 2,84%. Pembatasan mobilitas, perilaku kehati-hatian, dan hilangnya pendapatan tenaga kerja telah menyebabkan kontraksi yang tajam di hampir semua sub sektor konsumsi, kecuali konsumsi di bidang kesehatan & pendidikan dan peralatan. Terbatasnya kegiatan usaha dan konsumsi rumah tangga berkontribusi pada lambatnya pertumbuhan kredit. Rendahnya angka inflasi juga menegaskan bahwa permintaan agregat masih berada pada level terendah. Sementara dari sektor eksternal, perdagangan terus menurun dari level sebelum pandemi akibat penurunan permintaan dan penawaran global, meskipun angka tersebut telah sedikit membaik sejak Juli yang tercatat dengan pertumbuhan bulanan yang positif. Bagaimanapun, penurunan impor yang lebih dalam daripada ekspor telah berkontribusi pada surplus neraca perdagangan dan penurunan CAD yang mencapai US$-2,9 miliar atau setara dengan -1,2% dari PDB pada Triwulan-II 2020.…
    03 Nov
    03 Nov
  • Inflasi pada bulan Oktober 2020 menunjukkan adanya penguatan. Sepanjang bulan Oktober, inflasi umum mengalami peningkatan sebesar 0,02bps hingga menjadi 1,44% (YoY). Adapun peningkatan inflasi pada bulan Oktober diakibatkan oleh adanya penguatan inflasi kelompok bergejolak yang mengalami inflasi (MtM) untuk pertama kalinya, setelah tiga bulan berturutturut mencatatakan deflasi.  Beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap peningkatan inflasi bergejolak meliputi cabai merah (dengan kontribusi sebesar 0,09%), bawang merah (0,02%) dan emas (0,01%).  Harga beberapa komoditas ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan lantaran buruknya cuaca pada pertengahan hingga akhir Oktober 2020, yang pada gilirannya mengakibatkan keterbatasan pasokan komoditas tersebut.…
    03 Nov
    03 Nov
  • Ketidakpastian terus meningkat, baik di sisi domestik maupun global. Disaat masyarakat masih belum yakin pemerintah sudah melakukan upaya penanganan krisis kesehatan secara baik, munculnya isu-isu lain seperti penolakan terhadap Omnibus Law Ketenagakerjaan dan implementasi yang buruk dari penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta makin memperkeruh ketidakpastian. Imbasnya, nilai tukar Rupiah bergejolak sejak pertengahan September. Lebih lanjut, tidak adanya tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat meredam permintaan agregat seiring kelompok masyarakat menengah keatas menahan pengeluaran dan dunia usaha menahan kapasitas produksi di level minimum. Oleh sebab itu, pelonggaran kebijakan moneter saat ini tidak akan terlalu mendorong bertumbuhnya aktivitas ekonomi dan justru akan menambah risiko peningkatan tekanan terhadap depresiasi nilai tukar Rupiah dan arus modal keluar. Oleh karena itu, kami memandang BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di level 4,00% bulan ini, sembari mempertahankan kebijakan makroprudensial untuk mengelola stabilitas di sektor keuangan.…
    12 Okt
    12 Okt
  • Inflasi (MoM) pada bulan September 2020 kembali mencatatkan deflasi sebesar 0,05%, menandai ketiga kalinya deflasi terjadi secara berturut-turut dalam tiga bulan terakhir.  Adapun kontributor deflasi (MtM) terbesar adalah kelompok barang bergejolak, dimana sepanjang bulan September, beberapa komoditas pangan mengalami deflasi: beras (-0,4% MtM), daging ayam (-1,2% MtM), bawang merah (-4,3% MtM), dan cabai rawit (-7,3% MtM). Meskipun demikian, tren inflasi kelompok bergejolak menunjukkan adanya peningkatan relatif terhadap bulan sebelumnya (baik YoY maupun MtM), mengindikasikan turunnya pasokan pangan selama bulan September 2020 – sebagaimana terjadi pada komoditas cabai merah.…
    02 Okt
    02 Okt
  • Sejak bulan Maret, BI semakin memperhatikan risiko pertumbuhan ekonomi dan mengubah sikap kebijakannya menjadi secara preemptif mendukung pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi dampak krisis kesehatan sekaligus mengelola stabilitas pasar keuangan. Namun demikian, meningkatnya risiko kontraksi ekonomi global yang semakin dalam ditambah dengan kemungkinan penyebaran virus yang berkepanjangan di Indonesia telah menimbulkan ketidakpastian di pasar setidaknya sejak awal September. Akibatnya, Rupiah melemah ke level Rp14.900 per 14 September 2020. Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan depresiasi terparah di negara berkembang Asia. Sementara itu, semakin menurunnya akumulasi aliran modal masuk mendorong imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi. Meski inflasi bulan lalu sangat rendah, permintaan kredit diperkirakan akan tertahan dalam waktu dekat seiring diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jakarta. Kondisi ini memberikan ruang bagi BI untuk memprioritaskan stabilisasi Rupiah pada bulan ini akibat meningkatnya risiko ketidakpastian di pasar  keuangan. Oleh karena itu, kami memandang BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya di tingkat 4,00% bulan ini untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial dan  moneter nonkonvensional sebagai langkah dalam mendorong likuiditas.…
    16 Sep
    16 Sep
Goto :