SERI ANALISIS MAKROEKONOMI: Inflasi Bulanan, Juli 2020

  • Inflasi pada bulan Juli 2020 kembali mengalami penurunan hingga 1,96% (secara YoY) – angka terendah dalam setidaknya satu tahun terakhir. Kami berpendapat bahwa tren pelemahan inflasi ini tidak terlepas dari respon agen ekonomi terhadap pandemik COVID-19. Ketidakpastian kondisi perekonomian mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungan dan mengurangi konsumsi. Hal ini melemahkan daya beli masyarakat, sebagaimana tercermin dari turunnya inflasi inti hingga mencapai angka 2,26% (turun sebesar 0.39 bps). Tidak hanya itu, lesunya perekonomian global dan harga minyak dunia yang belum mencapai tingkat pra-COVID 19 juga ikut berkontribusi melemahkan inflasi domestik.…
    03 Jul
    03 Jul
  • Beberapa negara, termasuk Indonesia, mulai membuka kembali ekonomi dan melonggarkan pencegahan pandemi sebagai upaya pemulihan kontraksi akibat COVID-19. Meskipun puncak pandemi dan penyelesaiannya masih belum pasti, Indonesia memutuskan untuk secara bertahap menghidupkan kembali perekonomian dengan melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju “new normal”. Hingga saat ini, pandemi telah berdampak pada seluruh aspek ekonomi seiring dengan gangguan rantai pasok global dan melemahnya permintaan. Penurunan konsumsi dan investasi tidak dapat dihindari. Lebih lanjut, ekspor turun secara signifikan sementara impor anjlok lebih dalam. Kondisi ini mencerminkan prospek ekonomi yang suram dalam waktu dekat karena jatuhnya impor, yang didominasi oleh bahan baku dan barang modal, memberikan sinyal kontraksi ke sektor riil. Selain itu, inflasi tetap rendah dan terkendali karena penurunan permintaan meredam inflasi yang bersumber dari kenaikan biaya produksi.…
    17 Jun
    17 Jun
  • Melanjutkan tren sejak awal 2020, tingkat inflasi umum (YoY) pada bulan Juni kembali mengalami penurunan, yakni sebesar 0,66 bps – menjadi 2,19%. Angka ini merupakan yang terendah sepanjang setahun terakhir. Kondisi ini patut diperhatikan, khususnya apabila mempertimbangkan bulan Mei yang merupakan bulan Ramadhan. Sama seperti bulan sebelumnya, kami memperkirakan bahwa penerapan kebijakan PSBB merupakan faktor utama penyebab rendahnya angka inflasi bulan ini. Tingginya angka pengangguran sebagai akibat dari penerapan PSBB telah berkontribusi terhadap turunnya tingkat pendapatan masyarakat, dan pada gilirannya, juga melemahkan daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari melemahnya inflasi inti hingga hanya menjadi sebesar 2,65%. Selain itu, deflasi komoditas pangan yang semakin besar juga ikut menurunkan tingkat inflasi umum pada bulan Mei.…
    04 Jun
    04 Jun
  • Pandemi Covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian Indonesia di kuartal pertama 2020, yang masih dalam fase permulaan. Pertumbuhan PDB melambat menjadi 2,97% (yoy),  menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak krisis keuangan Asia. Konsumsi dan investasi tumbuh lamban sebagai konsekuensi dari adanya implementasi pembatasan sosial untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 yang menyebabkan berkurangnya permintaan dan kegiatan ekonomi. Dampak penurunan ini sedikit tertahan oleh peningkatan ekspor neto. Melihat tren surplus neraca perdagangan selama dua periode berturut-turut, kami memperkirakan bahwa CAD akan membaik ke level 1,4-1,6% pada triwulan-I 2020. Karena belum mencapai periode puncak pandemi, prospek suram untuk ekonomi Indonesia terlihat semakin jelas kedepannya. Melemahnya permintaan, gangguan pada rantai pasok global, dan harga komoditas global yang lebih rendah diperkirakan akan memberikan tekanan lebih lanjut pada perekonomian di triwulan-II dan triwulan-III 2020. Sementara itu, kami masih melihat inflasi yang stabil karena lemahnya permintaan menahan dampak dari risiko supply shock.…
    18 Mei
    18 Mei
  • Inflasi umum (YoY) pada bulan April 2020 kembali mengalami perlambatan dibandingkan dua bulan sebelumnya. Sesuai dengan prediksi sebelumnya, tingkat inflasi mengalami penurunan yang cukup signifikan dibanding bulan Maret, yaitu sebesar 0,3 bps. Fundamental yang sama terjadi pada bulan April, namun dengan intensitas yang lebih tinggi, akibat penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tingkat permintaan agregat mengalami penurunan, terutama pada pada kebutuhan sekunder dan tersier. Hal ini tercermin pada penurunan tingkat inflasi inti menjadi 2,85% (YoY), atau sebesar 0,03 bps dibanding bulan sebelumnya.…
    06 Mei
    06 Mei
  • Pandemi Covid-19 telah memberikan guncangan yang belum pernah kita saksikan sebelumnya, paling tidak dalam 100 tahun terakhir. Gangguan yang ditimbulkan oleh Covid19 telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan secara global. Disamping memberikan ancaman terhadap kesehatan jutaan orang, Covid-19 juga memberikan gangguan perekonomian tidak hanya di level individu, namun juga pada skala nasional dan global. Guncangan yang ditimbulkan telah merambat ke sektor finansial akibat meningkatnya volatilitas dan ketidakpastian, menyebabkan investor global mengalihkan portofolionya dari “risky assets” ke “safe-have assets”. Perilaku “flight-to-safety” ini telah memicu arus modal keluar dari negara berkembang, menyebabkan kelangkaan likuiditas di pasar mata uang asing dan mengancam stabilitas nilai tukar. Lebih lanjut, gangguan di rantai pasok dan krisis kredit di sektor perbankan menimbulkan risiko kelangkaan suplai barang selama periode Ramadan dan Idul Fitri yang berpotensi menyebabkan naiknya inflasi akibat supply shock.…
    13 Apr
    13 Apr
  • Kasus penularan pandemi Covid-19 di Indonesia telah meningkat drastis, mencapai lebih dari 2.400 jiwa penderita dengan penyebaran yang semakin meluas. Keberadaan pandemi tentu memberikan ancaman besar, baik untuk kehidupan masyarakat maupun perekonomian Indonesia. Pelemahan ekonomi baik di sektor riil maupun finansial tidak dapat terhindarkan. Di tengah risiko disrupsi signifikan terhadap aktivitas perekonomian domestik, pemerintah memerlukan strategi kebijakan fiskal dalam jumlah besar dengan penyaluran yang cepat dan tepat sasaran. Sejauh ini, stimulus sudah dikeluarkan oleh pemerintah dalam dua fokus. Dalam fokus jangka pendek, pemerintah telah berupaya meningkatkan anggaran kesehatan dan mempercepat realisasi bantuan sosial. Dibandingkan beberapa negara terdampak lainnya, nilai anggaran kesehatan di Indonesia relatif lebih besar, yakni sekitar 0,5% dari PDB. Dalam fokus jangka panjang, pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mendorong aktivitas ekonomi melalui beberapa insentif, seperti insentif perpajakan dan relaksasi kredit. Hingga saat ini, paket stimulus fiskal sudah mencapai 2,5% dari PDB. Pengeluaran ini relatif tinggi dibandingkan beberapa negara terdampak lainnya.…
    07 Apr
    07 Apr
Goto :