Menghitung Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Bank Sampah: Studi Kasus Kota Depok

Kota Depok kini sedang dihadapkan masalah serius berkaitan dengan pengelolaan sampah.Jumlah populasi Kota Depok sebesar 2 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk sekitar 4 persen dan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen.Namun Ketersediaan tanah satu-satunya di Cipayung telah penuh. Dalam dua tahun terakhir, volume sampah meningkat dari 3000 meter kubik menjadi 4500 meter kubik per hari. Kota Depok hanya mampu mengumpulkan sampah kurang dari sepertiganya.Beberapa kebijakan pemerintah tidak efektif untuk mengurangi sampah.

Meskipun keterbatasan pemerintah mengelola sampah, beberapa komunitas di Depok telah membangun usaha lestari lingkungan yang dikenal dengan Bank Sampah, menggunakan sampah anorganik sebagai deposit. Bank Sampah adalah program komunitas masyarakat yang didirikan tahun 2011 secara sukarela , namun insentifnya masih minim. Selama Juni 2013 hingga Desember 2013, jumlah Bank Sampah meningkat dari 60 menjadi 400 lokasi dan tersebar lebih dari 500 di seluruh Kota Depok. Setelah memilah sampah kedalam organik dan anorganik, anggota dapat menyimpan anorganik sampah di Bank Sampah, kemudian Bank Sampah akan menjualnya kepada industri atau pengepul sampah.

Bank Sampah mendukung program pemerintah dengan mengubah perilaku masyarakat untuk memilah sampah anorganik dan organik, dan menciptakan barang berharga melalui daur ulang di Unit Pengelolaan Sampah (UPS) dan rumah kompos. Kota Depok menargetkan di tahun 2014 akan mempunyai 2000 lokasi untuk mengurangi 40% volume sampah.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh efektivitas Bank Sampah terhadap pengurangan sampah dan perkiraan manfaat ekonomi dari Bank Sampah.Studi kasus penelitian dilakukan di tiga Kacamatan.Kami menganalisis tingkat partisipasi Bank Sampah di tiga lokasi dan keberlanjutan program.Kami menemukan bahwa manfaat dari Bank Sampah telah tersebar di beberapa lokasi.Setelah menganalisis tingkat partisipasi anggota,kami menyimpulkan bahwa manfaat ekonomi yang merata dapat menjaga jumlah kehadiran anggota, tetapi juga mempertimbangkan potensi tingkat partisipasi yang semakin berkurang. Kami juga menemukan peran Bank Sampah hanya mengurangi porsi sampah sekitar 2 persen, meskipun akhir tahun 2015 dapat pengurangan sampah meningkat menjadi 15 persen dan prediksi dari pemerintah sekitar 40%.

(Alin Halimatussadiah, Departemen Ilmu Ekonomi, FEUI, September 19, 2014)

Leave a Reply