BI Board of Governor Meeting

Category

Tingginya konsumsi akibat bulan Ramadhan dan menjelang perayaan Idul Fitri memberikan kontribusi terhadap tingginya inflasi umum di bulan April, dengan kontribusi tertinggi berasal dari komponen barang-barang bergejolak dan bahan makanan. Sebaliknya, harga energi masih terkendali karena Pemerintah Indonesia mempertahankan subsidi dan kompensasi energi serta perlindungan sosial, sehingga kemampuan daya beli masyarakat terjaga dan inflasi inti tetap relatif rendah. Dari sisi domestik, Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan positif pada Triwulan-I 2022 yang ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap terjaga, pemulihan investasi, dan peningkatan ekspor akibat melonjaknya harga komoditas. Kinerja ekonomi yang kuat dan lonjakan harga komoditas membantu mengelola arus keluar modal selama pengetatan moneter oleh the Fed yang dilakukan untuk mengatasi tekanan inflasi. Pertumbuhan ekonomi yang kondusif dan inflasi inti yang terkendali memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakannya di 3,50% dalam rapat Dewan Gubernur BI bulan ini.…
Read More
Keberlanjutan gangguan rantai pasok dan kelangkaan energi sebagai dampak dari konflik Rusia dan Ukraina di berbagai belahan dunia telah memberikan tekanan pada inflasi global dan proses pemulihan ekonomi. Di dalam negeri, dampaknya mulai terasa karena laju inflasi juga diperkirakan akan meningkat di bulan ini karena mengikuti tren musiman dengan adanya perayaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Namun, neraca perdagangan muncul sebagai salah satu yang diuntungkan dari tren kenaikan harga komoditas yang berkepanjangan yang dapat menjaga stabilitas Rupiah dan pertumbuhan ekonomi dari jalur ekspor, serta berkontribusi pada penerimaan negara. Melihat kondisi saat ini, kami memandang BI perlu menahan suku bunga acuannya di 3,50% bulan ini.  Selain itu, BI perlu mempertahankan sikap moneter yang pro-stabilitas dan kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan selama masa-masa yang tidak pasti ini.…
Read More
Ekonomi global belakangan sedang berada dalam kondisi yang tidak ideal.  Pemulihan ekonomi domestik yang tidak merata, gangguan rantai pasok yang berkelanjutan, serta kelangkaan energi di berbagai belahan dunia telah menciptakan tantangan serius terhadap proses pemulihan ekonomi. Pecahnya perang Rusia-Ukraina memperkeruh masalah ekonomi global, terutama inflasi, yang memicu naiknya harga komoditas energi dan pangan. Di level global, perekonomian dihadapkan pada masalah kesehatan dan implikasi perang pada saat yang bersamaan. Di sisi domestik, beruntungnya, dampak dari perkembangan terkini di level global relatif terkendali hingga saat ini. Namun, risiko akan inflasi di masa mendatang dengan mendekatnya periode Ramadhan, relaksasi dari pembatasan sosial, naiknya harga energi dan pangan akan memberikan tantangan besar terhadap regulator, utamanya BI. Oleh karena itu, suku bunga acuan sebaiknya dipertahankan di 3,50% bulan ini.…
Read More
Setelah merebaknya varian Delta pada periode Juni hingga September tahun lalu, kini Indonesia dihadapkan pada gelombang baru dari varian Omicron.  Per 7 Februari 2022, tambahan kasus harian mencapai lebih dari 27.000 kasus (7-day moving average). Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga puncak gelombang Omicron yang diprediksi terjadi pada akhir Februari. Di sisi lain, beberapa indikator ekonomi masih menunjukkan pertumbuhan yang progresif meski kasus baru terus bermunculan. Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan-IV 2021 mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik dengan pertumbuhan sebesar 5,02% (y.o.y). Serupa dengan pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi juga mengalami kenaikan dari 1,84% (y.o.y) di bulan Desember menjadi 2,18% (y.o.y) di Januari.  Namun, angka tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama seiring dengan melejitnya angka pertambahan kasus positif Omicron. Dari sisi eksternal, beberapa  bank sentral sudah mulai menaikkan tingkat suku bunga seiring dengan tekanan inflasi yang masih terus terjadi. Sebagai akibatnya, koreksi pada pasar domestik di jangka pendek menjadi tidak terhindarkan yang ditandai dengan adanya arus modal keluar dan pelemahan nilai tukar Rupiah. Menimbang situasi yang ada, Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga pada 3,50% bulan ini sembari mencermati kondisi pasar domestik dan mengantisipasi fluktuasi yang akan terjadi di pasar global.  …
Read More
Kegiatan konsumsi dan produksi berangsur-angsur kembali normal yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan inflasi dan penerimaan pajak yang lebih tinggi dari target. Namun, publik mungkin belum memiliki kepercayaan penuh mengingat pemerintah mengonfirmasi kasus Omicron pertama pada bulan Desember ketika jumlah kasus Covid-19 harian terkonfirmasi sekitar 200 kasus, yang sejak saat itu telah meningkat di antaranya karena transmisi lokal, sebagaimana dibuktikan oleh sedikit penurunan pada IKK dan PMI. Kenaikan suku bunga di beberapa negara serta rencana kenaikan suku bunga di negara-negara ekonomi utama menimbulkan risiko, terutama bagi negara-negara berkembang. Selain itu, gangguan rantai pasok global dan kenaikan inflasi di banyak negara dapat memaksa negara berkembang untuk mulai menaikkan suku bunga. Namun, mengingat inflasi yang masih di bawah target dan untuk mendukung pemulihan ekonomi yang sedang  berlangsung, BI harus terus mempertahankan suku bunga acuan di 3,50% pada  Rapat Dewan Gubernur bulan ini.…
Read More
Aktivtias ekonomi domestik semakin menunjukkan perbaikan sejalan dengan meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat yang ditandai dengan kenaikan inflasi serta IKK dan PMI. Meski demikian, kenaikan kasus baru Covid-19 di beberapa negara akibat varian Omicron yang tampak menyebar lebih cepat menimbulkan risiko global yang sangat tinggi yang dapat memicu gelombang baru. Pengetatan kembali pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah menjadi tak terelakkan, dan ini membahayakan pemulihan apa pun yang telah dilakukan rantai pasokan global di seluruh dunia. Risiko pasar global juga meningkat dalam satu bulan terakhir sebagai dampak dari pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat akibat tren kenaikan inflasi. Upaya pemerintah untuk mencegah lonjakan besar kasus Omicron sangat penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Sementara itu, BI perlu menjaga Rupiah di tengah pemulihan ekonomi dengan menahan suku bunga acuan di 3,50% bulan ini.…
Read More
Perkembangan terkini ekonomi global diwarnai dengan banyak peristiwa. Kombinasi dari program stimulus yang masif serta pemulihan yang terjadi lebih awal mendorong peningkatan permintaan agregat yang menciptakan tekanan inflasi, sehingga memaksa diterapkannya pengetatan moneter di mana salah satu negara tersebut adalah Amerika Serikat, yang mulai menerapkan tapering off awal bulan ini. Dari sisi domestik, terkendalinya angka kasus harian Covid-19 telah mendorong terciptanya momentum baru dari pemulihan ekonomi. Disrupsi di sektor riil dalam bentuk apapun dapat menggangu proses pemulihan yang sedang berlangsung. Mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, pelonggaran moneter saat ini berpotensi memperparah arus modal keluar dan kita masih jauh dalam tahap ideal untuk mengimplementasikan pengetatan moneter tanpa membahayakan pemulihan di sektor riil. Oleh karena itu, menahan suku bunga kebijakan di angka 3,50% merupakan langkah yang dirasa tepat untuk saat ini.…
Read More
1 2 3 12