SERI ANALISIS MAKROEKONOMI: Inflasi Bulanan, Juni 2021

  • Inflasi pada bulan April tercatat sebesar 1,68 persen secara year-on-year, menguat dibanding bulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 1,42 persen. Inflasi pada periode ini didorong oleh penguatan inflasi inti dan inflasi pada komponen barang bergejolak, meskipun inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah mengalami sedikit pelemahan. Inflasi inti tercatat sebesar 1,37 persen, menguat dibanding bulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 1,18 persen. Inflasi pada komponen harga barang bergejolak juga mengalami penguatan dari 2,73 persen pada bulan April 2021 menjadi 3,66 persen pada bulan Mei 2021. Sebaliknya, inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah mengalami sedikit pelemahan dari 1,12 persen pada bulan April 2021 menjadi 0,93 persen pada bulan Mei 2021. Meski demikian, pelemahan inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah tidak cukup kuat untuk menurunkan inflasi umum pada periode ini secara year on year.…
    04 Jun
    04 Jun
  • Berbagai faktor memengaruhi perbaikan kondisi ekonomi dalam beberapa waktu belakangan. Mulai bergulirnya vaksin, stimulus masif dari pemerintah, dan pembukaan aktivitas ekonomi secara perlahan berkontribusi terhadap hidupnya kembali aktivitas ekonomi domestik. Walaupun demikian, risiko kesehatan dari Covid-19 masih terus membayangi. Tercermin dari angka inflasi, relaksasi dari berbagai kebijakan pembatasan sosial dan bulan Ramadan nyatanya belum mampu mengerek permintaan agregat ke level normal. Dari sisi eksternal, terlepas dari derasnya arus modal masuk di awal Mei 2021, yang sebagian besar didorong oleh sentimen positif terhadap prospek ekonomi domestik, kondisi ini cenderung bersifat sementara. Berbagai isu, dari kemungkinan diberlakukannya kembali lockdown di beberapa negara hingga kemungkinan tapering-off oleh the  Fed seiring mulai pulihnya ekonomi domestik AS dan risiko peningkatan inflasi memicu arus modal keluar dari Indonesia. Dengan masih bergejolaknya tekanan eksternal dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kondisi finansial, kami berpandangan bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di 3,50%pada bulan ini.…
    24 Mei
    24 Mei
  • Inflasi pada bulan April tercatat sebesar 1,42 persen secara year-on-year, menguat dibanding bulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 1,37 persen. Inflasi pada periode ini didorong oleh penguatan inflasi bergejolak dan inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah, meskipun inflasi pada komponen inti mengalami sedikit pelemahan. Inflasi bergejolak tercatat sebesar 2,73 persen, menguat dibanding bulan sebelumnya yang hanya sebesar 2,49 persen. Inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami penguatan dari 0,88 persen pada bulan Maret 2021 menjadi 1,12 persen pada bulan April 2021. Sebaliknya, inflasi inti mengalami sedikit pelemahan dari 1,21 persen pada bulan Maret 2021 menjadi 1,18 persen pada bulan April 2021. Namun, pelemahan inflasi pada komponen inti tidak cukup kuat untuk menurunkan inflasi umum pada periode ini secara year on year.…
    05 Mei
    05 Mei
  • Pandemi Covid-19 membawa sebuah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks teoritis, krisis yang sedang berlangsung bukanlah disebabkan oleh aspek yang berkaitan dengan ekonomi seperti kolapsnya sektor perbankan, kredit macet, atau tingginya hutang pemerintah. Oleh karenanya, krisis yang kita hadapi saat ini tidak pernah dijelaskan sebelumnya dalam buku pelajaran ekonomi dan membuat semua pihak kebingungan. Setelah setahun lebih menjalani hidup dalam kondisi pseudodistopia, kita telah melihat cukup banyak dampak negatif hingga pemerintah mengambil kebijakan yang extraordinary sudah tidak asing lagi. Akumulasi hutang  pemerintah yang eksesif, bank sentral yang mendanai kebijakan fiskal, dan pengembangan vaksin tercepat dalam sejarah manusia terjadi di seluruh dunia dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia dari virus Covid-19 dan menjaga kelompok termiskin agar tetap mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.…
    04 Mei
    04 Mei
  • Berlanjutnya tren pemulihan domestik semakin memperbesar momentum potensi pemulihan ekonomi. Pencapaian tersebut didorong oleh percepatan program vaksinasi dan stimulus pemerintah, seperti potongan pajak atas barang mewah. Meskipun demikian, tidak seperti biasanya, inflasi tetap rendah pada periode awal Ramadhan. Dari sisi eksternal, ketidakpastian sebagian besar berasal dari perkembangan AS. Perkembangan vaksinasi, pasar tenaga kerja yang membaik, dan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan menunjukkan kabar baik tentang perekonomian, yang mendorong investor untuk menempatkan aset mereka ke instrumen safe haven. Kondisi ini memberikan tekanan pada Rupiah yang terdepresiasi menjadi Rp14.572 terhadap USD pada akhir Maret. Bulan ini, kita melihat imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10-tahun secara bertahap turun dan arus modal mulai berpindah ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Meskipun inflasi masih rendah, BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50% bulan ini untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah dan mendukung momentum pemulihan ekonomi.…
    19 Apr
    19 Apr
  • Inflasi pada bulan Maret tercatat sebesar 1,37 persen secara year-on-year, melemah sedikit dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,38 persen. Koreksi pada inflasi umum ini didorong oleh pelemahan yang cukup signifikan pada inflasi inti dari bulan Februari 2021. Pelemahan ini ternyata cukup menutupi penguatan inflasi pada komponen bergejolak yang melonjak dari 1,52 persen pada bulan Februari 2021 menjadi 2,49 persen. Komponen harga diatur pemerintah pun mengalami penguatan inflasi.…
    04 Apr
    04 Apr
  • Kinerja indikator ekonomi makro Indonesia saat ini menunjukkan perbaikan, tercermin dari peningkatan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), neraca perdagangan, dan tren penurunan kasus harian Covid-19. Peningkatan ini didorong oleh ekspektasi yang lebih baik setelah vaksinasi Covid-19 dimulai. Namun, dampak dari sentimen positif dari dalam negeri menghilang sejak akhir Februari akibat tekanan yang cukup tinggi dari kondisi eksternal. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan di AS yang mencerminkan prospek pemulihan ekonomi yang optimis telah memukul pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah terdepresiasi sebesar 3,70% (ytd) pada pertengahan Maret. Depresiasi didorong oleh arus modal keluar besar-besaran karena menipisnya perbedaan imbal hasil antara aset AS dengan negara berkembang. Dalam kondisi yang tidak menentu ini, kami melihat bahwa BI  arus lebih berhati-hati terhadap peningkatan risiko eksternal. Meskipun inflasi rendah masih terus berlanjut yang menandakan permintaan agregat masih lemah, BI harus memprioritaskan stabilitas Rupiah di bulan ini. Kebijakan moneter ekspansif apapun akan terlalu merugikan BI saat ini karena kinerja kondisi ekonomi juga masih jauh dari pulih. Oleh karena itu, kami melihat bahwa BI perlu menahan suku bunga kebijakan pada 3,50% bulan ini sebagai langkah pencegahan untuk menstabilkan Rupiah.…
    17 Mar
    17 Mar
Goto :