SERI ANALISIS MAKROEKONOMI: Inflasi Bulanan, April 2021

  • Inflasi pada bulan Maret tercatat sebesar 1,37 persen secara year-on-year, melemah sedikit dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,38 persen. Koreksi pada inflasi umum ini didorong oleh pelemahan yang cukup signifikan pada inflasi inti dari bulan Februari 2021. Pelemahan ini ternyata cukup menutupi penguatan inflasi pada komponen bergejolak yang melonjak dari 1,52 persen pada bulan Februari 2021 menjadi 2,49 persen. Komponen harga diatur pemerintah pun mengalami penguatan inflasi.…
    04 Apr
    04 Apr
  • Kinerja indikator ekonomi makro Indonesia saat ini menunjukkan perbaikan, tercermin dari peningkatan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), neraca perdagangan, dan tren penurunan kasus harian Covid-19. Peningkatan ini didorong oleh ekspektasi yang lebih baik setelah vaksinasi Covid-19 dimulai. Namun, dampak dari sentimen positif dari dalam negeri menghilang sejak akhir Februari akibat tekanan yang cukup tinggi dari kondisi eksternal. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan di AS yang mencerminkan prospek pemulihan ekonomi yang optimis telah memukul pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah terdepresiasi sebesar 3,70% (ytd) pada pertengahan Maret. Depresiasi didorong oleh arus modal keluar besar-besaran karena menipisnya perbedaan imbal hasil antara aset AS dengan negara berkembang. Dalam kondisi yang tidak menentu ini, kami melihat bahwa BI  arus lebih berhati-hati terhadap peningkatan risiko eksternal. Meskipun inflasi rendah masih terus berlanjut yang menandakan permintaan agregat masih lemah, BI harus memprioritaskan stabilitas Rupiah di bulan ini. Kebijakan moneter ekspansif apapun akan terlalu merugikan BI saat ini karena kinerja kondisi ekonomi juga masih jauh dari pulih. Oleh karena itu, kami melihat bahwa BI perlu menahan suku bunga kebijakan pada 3,50% bulan ini sebagai langkah pencegahan untuk menstabilkan Rupiah.…
    17 Mar
    17 Mar
  • Inflasi pada bulan Februari tercatat sebesar 1,38 persen secara year-on-year, melemah 0,17 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Koreksi pada inflasi umum ini didorong oleh pelemahan yang cukup signifikan pada inflasi komponen barang bergejolak yang melemah 1,3 persen dari bulan Januari 2021. Pelemahan ini cukup besar untuk menutupi penguatan inflasi pada kelompok barang dengan harga diatur pemerintah sebesar 0,32 persen.…
    03 Mar
    03 Mar
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar -2,07% pada tahun 2020, berada pada resesi pertama dalam dua dekade sejak krisis keuangan Asia di tahun 1998. Meskipun terus mengalami resesi sejak Triwulan-III 2020, pertumbuhan ekonomi relatif lebih baik dari -3,5% (y.o.y) pertumbuhan global dan secara perlahan pulih pada Triwulan-IV 2020 yang tercatat sebesar -2,19% (y.o.y).  Meski dampak krisis Covid-19 masih terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan pulih secara bertahap di tahun ini didukung oleh serangkaian kebijakan yang substansial untuk meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan bisnis serta pemberian bantuan sosial yang memadai dan peluncuran vaksin untuk mengurangi tingkat penyebaran infeksi. Inflasi masih jauh di bawah target dan diperkirakan tidak akan meningkat tajam dalam waktu dekat karena permintaan yang masih tertahan akibat pandemi Covid-19 yang merusak ekonomi dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, secara mengejutkan, kondisi eksternal menunjukkan secercah harapan dengan berlanjutnya lonjakan arus masuk portofolio, berlanjutnya surplus perdagangan bulanan, dan cadangan devisa yang tinggi sehingga memperkuat stabilitas Rupiah. Secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan situasi domestik dan eksternal saat ini, kami melihat bahwa saat ini adalah momentum yang tepat bagi BI untuk kembali memangkas suku bunga kebijakan sebesar 25bps menjadi 3,50% bulan ini untuk mendukung agenda pemulihan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sektor keuangan.…
    18 Peb
    18 Peb
  • Melanjutkan pola dari Semester-I 2020, kondisi perekonomian Indonesia di Triwulan-III 2020 cukup mengecewakan banyak pihak dimana hasilnya lebih buruk dari perkiraan. Tercatat sebesar -3.49% (y.o.y), angka pertumbuhan PDB di Triwulan-III resmi membuat Indonesia masuk ke dalam definisi resesi. Menilik lebih dalam ke sisi sektoral, empat sektor utama dari perekonomian Indonesia (industri pengolahan, perdagangan besar & eceran, konstruksi, pertambangan & penggalian) yang menyumbang kontribusi lebih dari setengah PDB Indonesia masih mengalami pertumbuhan yang negatif di Triwulan-III 2020. Sementara di sisi pengeluaran, hampir semua komponen PDB mengalami kontraksi kecuali belanja pemerintah. Total kredit turun tajam ke level terendah sejalan dengan perlambatan aktivitas bisnis dan lemahnya permintaan konsumen. Inflasi inti yang masih rendah menunjukkan bahwa daya beli masih lemah hingga akhir tahun 2020. Meskipun terjadi pelemahan ekonomi yang dalam akibat krisis kesehatan, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama delapan bulan berturut-turut dari Mei hingga Desember 2020. Kinerja perdagangan telah menurunkan tekanan pada neraca transaksi berjalan dan Rupiah, di mana neraca transaksi berjalan mencatat surplus pada Triwulan III 2020 dan Rupiah relatif terjaga hingga akhir tahun. Namun, rangkaian surplus neraca perdagangan ini tidak mencerminkan prospek ekonomi yang lebih baik akibat surplus terjadi karena penurunan impor yang signifikan akibat melemahnya permintaan internasional dan domestik. Belum ada tanda-tanda yang menjanjikan pada pemulihan sektor riil selama impor yang terutama terdiri  dari bahan baku dan barang modal masih rendah.…
    03 Peb
    03 Peb
  • Inflasi (YoY) pada bulan Januari 2021 tercatat sebesar 1,55% atau melemah sebesar 0,13% terhadap bulan sebelumnya. Pelemahan inflasi pada awal tahun 2021 disebabkan oleh masih lemahnya permintaan masyarakat dengan inflasi inti yang terus mengalami tren penurunan. Inflasi barang bergejolak juga mengalami pelemahan yang cukup signifikan menandakan terjaganya sisi penawaran. Di sisi lain, harga barang yang diatur pemerintah pada bulan Januari 2021 mengalami penguatan inflasi secara year-on-year (0,34%).…
    03 Peb
    03 Peb
  • Sebagai topik utama di tahun 2020, permintaan agregat dan daya beli masyarakat yang sangat lemah merupakan fenomena yang cukup global akibat pandemi Covid-19 menyebabkan guncangan yang sangat besar hampir di semua negara di dunia. Namun, di saat negara-negara di dunia cukup berhasil dalam mengatur fokus mereka dan mencoba mengatasi masalah kesehatan dengan tepat, Indonesia terlihat masih berjuang untuk  menangani situasi tersebut. Menjelang akhir tahun 2020, tanda-tanda pemulihan yang penting belum terlihat di Indonesia. Terlepas dari itu, berbagai rentetan kejadian telah terjadi dalam kondisi perekonomian Indonesia. Dengan menguraikan komponen Neraca Pembayaran Indonesia, dari sisi neraca keuangan, hasil pemilu AS dan peluncuran vaksin pada pertengahan November lalu memicu sentimen positif bagi investor; sehingga melimpahkan likuiditas dalam pasar negara berkembang dan menyebabkan terjadinya apresiasi mata uang negara berkembang terhadap dolar AS dengan cepat. Dari sisi neraca transaksi berjalan, perdagangan luar negeri Indonesia juga menunjukkan tanda yang cukup baik. Di sisi lain, perkembangan kondisi kesehatan publik yang suram terus terjadi. Kasus harian Covid-19 tertinggi dari sebelumnya mendorong pemerintah untuk kembali menerapkan tindakan pembatasan sosial sebagai akibat dari kelebihan kapasitas fasilitas kesehatan publik. Selanjutnya, eskalasi dalam sektor keuangan dan sektor riil masih belum ada kejelasan karena sangat bergantung pada situasi pandemi yang sedang berlangsung.  Dengan banyak ketidakpastian yang ada, kami berpandangan bahwa BI harus menahan suku bunga acuan pada 3,75% bulan ini, dengan tetap menjaga kebijakan makroprudensial untuk mengelola stabilitas sektor keuangan.…
    20 Jan
    20 Jan
Goto :