SERI ANALISIS MAKROEKONOMI: Inflasi Bulanan, Agustus 2020

  • Inflasi pada bulan Juli 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,4 bps, hingga menjadi 1,54% (YoY). Bahkan, inflasi MtM pada bulan Juli 2020 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,1% – tingkat terendah dalam 10 bulan terakhir. Adapun penurunan inflasi tersebut disumbangkan oleh turunnya komponen inflasi bergejolak (sebesar 2,11 bps) dan inflasi inti (sebesar 0,19 bps). Turunnya laju pertumbuhan output yang juga disertai dengan terus menurunnya laju inflasi mengindikasikan dominasi komponen permintaan agregat, ketimbang komponen penawaran agregat dalam shock ekonomi yang dipicu oleh COVID-19. Melemahnya permintaan agregat tercermin pada menurunnya laju inflasi inti secara konsisten sejak bulan Maret, sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap krisis ekonomi COVID-19 baik dalam bentuk pengurangan konsumsi dan peningkatan tabungan (saving).…
    04 Agu
    04 Agu
  • Terhitung sudah lima bulan sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia pada awal bulan Maret. Masifnya penyebaran virus telah membawa dampak yang sangat besar, tidak hanya bagi kesehatan manusia tetapi juga bagi perekonomian. Berbagai kebijakan pencegahan, seperti pembatasan perjalanan antar wilayah serta pembatasan sosial, telah berdampak pada hampir seluruh sektor ekonomi. Disrupsi selama pandemi ini tercermin dalam pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan di Triwulan-I 2020 sebesar 2,97%, dibandingkan dengan konsensus di sekitar 3,5-4,0%. Kontributor utama PDB, seperti sektor manufaktur, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, dan sektor pertambangan dan penggalian, yang secara akumulatif menyumbang lebih dari setengah keseluruhan PDB, mengalami kontraksi pada Triwulan-I 2020. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga merosot menjadi hanya 2,84%, jauh di bawah pertumbuhan 5,01% yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Gangguan permintaan domestik tercermin dari penurunan pertumbuhan di hampir semua subsektor konsumsi.…
    04 Agu
    04 Agu
  • Akhir dari masa pandemi yang belum terlihat akan selesai dalam waktu dekat telah menempatkan pemerintah di situasi yang sulit karena kegiatan bisnis yang berhenti selama beberapa bulan dan skema pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang memaksa beberapa kelompok masyarakat mendapatkan penghasilan lebih sedikit. Kondisi tersebut sangat mahal bagi pemerintah karena harus menyediakan kebutuhan sosial dan beberapa stimulus lainnya untuk melindungi masyarakat dengan mempertahankan kebutuhan dasar dan untuk menjaga perusahaan-perusaan dari kebangkrutan. Sementara tingkatan covid-19 makin memburuk dalam hal penyebarannya, pemerintah telah berusaha mencapai jalan tengah dengan menerapkan protokol “new normal” untuk merangsang aktivitas ekonomi tanpa secara signifikan membahayakan aspek kesehatan dan keamanan dari masyarakat. Terlepas dari hal tersebut, dampak dari meningkatnya kegiatan ekonomi masih belum tercermin dalam data inflasi Juni.…
    15 Jul
    15 Jul
  • Inflasi pada bulan Juli 2020 kembali mengalami penurunan hingga 1,96% (secara YoY) – angka terendah dalam setidaknya satu tahun terakhir. Kami berpendapat bahwa tren pelemahan inflasi ini tidak terlepas dari respon agen ekonomi terhadap pandemik COVID-19. Ketidakpastian kondisi perekonomian mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungan dan mengurangi konsumsi. Hal ini melemahkan daya beli masyarakat, sebagaimana tercermin dari turunnya inflasi inti hingga mencapai angka 2,26% (turun sebesar 0.39 bps). Tidak hanya itu, lesunya perekonomian global dan harga minyak dunia yang belum mencapai tingkat pra-COVID 19 juga ikut berkontribusi melemahkan inflasi domestik.…
    03 Jul
    03 Jul
  • Beberapa negara, termasuk Indonesia, mulai membuka kembali ekonomi dan melonggarkan pencegahan pandemi sebagai upaya pemulihan kontraksi akibat COVID-19. Meskipun puncak pandemi dan penyelesaiannya masih belum pasti, Indonesia memutuskan untuk secara bertahap menghidupkan kembali perekonomian dengan melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuju “new normal”. Hingga saat ini, pandemi telah berdampak pada seluruh aspek ekonomi seiring dengan gangguan rantai pasok global dan melemahnya permintaan. Penurunan konsumsi dan investasi tidak dapat dihindari. Lebih lanjut, ekspor turun secara signifikan sementara impor anjlok lebih dalam. Kondisi ini mencerminkan prospek ekonomi yang suram dalam waktu dekat karena jatuhnya impor, yang didominasi oleh bahan baku dan barang modal, memberikan sinyal kontraksi ke sektor riil. Selain itu, inflasi tetap rendah dan terkendali karena penurunan permintaan meredam inflasi yang bersumber dari kenaikan biaya produksi.…
    17 Jun
    17 Jun
  • Melanjutkan tren sejak awal 2020, tingkat inflasi umum (YoY) pada bulan Juni kembali mengalami penurunan, yakni sebesar 0,66 bps – menjadi 2,19%. Angka ini merupakan yang terendah sepanjang setahun terakhir. Kondisi ini patut diperhatikan, khususnya apabila mempertimbangkan bulan Mei yang merupakan bulan Ramadhan. Sama seperti bulan sebelumnya, kami memperkirakan bahwa penerapan kebijakan PSBB merupakan faktor utama penyebab rendahnya angka inflasi bulan ini. Tingginya angka pengangguran sebagai akibat dari penerapan PSBB telah berkontribusi terhadap turunnya tingkat pendapatan masyarakat, dan pada gilirannya, juga melemahkan daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari melemahnya inflasi inti hingga hanya menjadi sebesar 2,65%. Selain itu, deflasi komoditas pangan yang semakin besar juga ikut menurunkan tingkat inflasi umum pada bulan Mei.…
    04 Jun
    04 Jun
  • Pandemi Covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian Indonesia di kuartal pertama 2020, yang masih dalam fase permulaan. Pertumbuhan PDB melambat menjadi 2,97% (yoy),  menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak krisis keuangan Asia. Konsumsi dan investasi tumbuh lamban sebagai konsekuensi dari adanya implementasi pembatasan sosial untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 yang menyebabkan berkurangnya permintaan dan kegiatan ekonomi. Dampak penurunan ini sedikit tertahan oleh peningkatan ekspor neto. Melihat tren surplus neraca perdagangan selama dua periode berturut-turut, kami memperkirakan bahwa CAD akan membaik ke level 1,4-1,6% pada triwulan-I 2020. Karena belum mencapai periode puncak pandemi, prospek suram untuk ekonomi Indonesia terlihat semakin jelas kedepannya. Melemahnya permintaan, gangguan pada rantai pasok global, dan harga komoditas global yang lebih rendah diperkirakan akan memberikan tekanan lebih lanjut pada perekonomian di triwulan-II dan triwulan-III 2020. Sementara itu, kami masih melihat inflasi yang stabil karena lemahnya permintaan menahan dampak dari risiko supply shock.…
    18 Mei
    18 Mei
Goto :