SERI ANALISIS MAKROEKONOMI: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Oktober 2020

  • Ketidakpastian terus meningkat, baik di sisi domestik maupun global. Disaat masyarakat masih belum yakin pemerintah sudah melakukan upaya penanganan krisis kesehatan secara baik, munculnya isu-isu lain seperti penolakan terhadap Omnibus Law Ketenagakerjaan dan implementasi yang buruk dari penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta makin memperkeruh ketidakpastian. Imbasnya, nilai tukar Rupiah bergejolak sejak pertengahan September. Lebih lanjut, tidak adanya tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat meredam permintaan agregat seiring kelompok masyarakat menengah keatas menahan pengeluaran dan dunia usaha menahan kapasitas produksi di level minimum. Oleh sebab itu, pelonggaran kebijakan moneter saat ini tidak akan terlalu mendorong bertumbuhnya aktivitas ekonomi dan justru akan menambah risiko peningkatan tekanan terhadap depresiasi nilai tukar Rupiah dan arus modal keluar. Oleh karena itu, kami memandang BI perlu mempertahankan suku bunga acuan di level 4,00% bulan ini, sembari mempertahankan kebijakan makroprudensial untuk mengelola stabilitas di sektor keuangan.…
    12 Okt
    12 Okt
  • Inflasi (MoM) pada bulan September 2020 kembali mencatatkan deflasi sebesar 0,05%, menandai ketiga kalinya deflasi terjadi secara berturut-turut dalam tiga bulan terakhir.  Adapun kontributor deflasi (MtM) terbesar adalah kelompok barang bergejolak, dimana sepanjang bulan September, beberapa komoditas pangan mengalami deflasi: beras (-0,4% MtM), daging ayam (-1,2% MtM), bawang merah (-4,3% MtM), dan cabai rawit (-7,3% MtM). Meskipun demikian, tren inflasi kelompok bergejolak menunjukkan adanya peningkatan relatif terhadap bulan sebelumnya (baik YoY maupun MtM), mengindikasikan turunnya pasokan pangan selama bulan September 2020 – sebagaimana terjadi pada komoditas cabai merah.…
    02 Okt
    02 Okt
  • Sejak bulan Maret, BI semakin memperhatikan risiko pertumbuhan ekonomi dan mengubah sikap kebijakannya menjadi secara preemptif mendukung pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi dampak krisis kesehatan sekaligus mengelola stabilitas pasar keuangan. Namun demikian, meningkatnya risiko kontraksi ekonomi global yang semakin dalam ditambah dengan kemungkinan penyebaran virus yang berkepanjangan di Indonesia telah menimbulkan ketidakpastian di pasar setidaknya sejak awal September. Akibatnya, Rupiah melemah ke level Rp14.900 per 14 September 2020. Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan depresiasi terparah di negara berkembang Asia. Sementara itu, semakin menurunnya akumulasi aliran modal masuk mendorong imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi. Meski inflasi bulan lalu sangat rendah, permintaan kredit diperkirakan akan tertahan dalam waktu dekat seiring diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jakarta. Kondisi ini memberikan ruang bagi BI untuk memprioritaskan stabilisasi Rupiah pada bulan ini akibat meningkatnya risiko ketidakpastian di pasar  keuangan. Oleh karena itu, kami memandang BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya di tingkat 4,00% bulan ini untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial dan  moneter nonkonvensional sebagai langkah dalam mendorong likuiditas.…
    16 Sep
    16 Sep
  • Melanjutkan tren yang terjadi sejak bulan Maret 2020, inflasi umum pada bulan Agustus 2020 kembali mengalami penurunan sebesar 0,22 bps hingga menjadi 1,32% (YoY) – titik terendahnya dalam 20 tahun terakhir. Kami melihat bahwa tren turunnya inflasi memiliki kaitan yang erat dengan belum pulihnya daya beli masyarakat, sebagaimana tercermin pada tren inflasi inti yang terus menurun sejak Maret 2020. Selain itu, ketidakpastian yang kembali muncul dengan jumlah kasus COVID-19 yang terus meningkat mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi terlebih investasi dan memilih untuk meningkatkan tabungan.…
    02 Sep
    02 Sep
  • Tidak mengejutkan bahwa Covid-19 berdampak sangat buruk terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia karena wabah tersebut mengakibatkan gangguan di seluruh aspek ekonomi. Pertumbuhan PDB mengalami kontraksi tajam sebesar -5,32% (yoy) di Triwulan-II 2020, yang merupakan penurunan terparah sejak Krisis Keuangan Asia 1998. Beberapa sektor utama seperti manufaktur, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, transportasi, dan akomodasi merupakan sektor-sektor yang paling terpukul akibat kebijakan pembatasan sosial yang bertujuan untuk menahan penyebaran virus. Perlambatan ekonomi juga tercermin sepenuhnya dari sisi pengeluaran, dimana pertumbuhan negatif terlihat di semua komponen PDB. Konsumsi dan investasi, turun masing-masing sebesar -5,51% dan -8,61% (yoy). Meskipun kemungkinan terjadinya perlambatan aktivitas ekonomi di Triwulan-III 2020 tidak dapat dihindari karena bisnis yang tidak dapat beroperasi dengan kapasitas penuh dan penjualan yang lebih rendah mencegah pemulihan ekonomi secara penuh, pemerintah harus tetap waspada dan fokus untuk menghindari perlambatan ekonomi lebih lanjut. Sementara itu, inflasi yang rendah masih akan berlanjut dan bahkan terdapat kemungkinan deflasi dalam beberapa bulan mendatang. Dengan demikian, tantangan bagi pemerintah ke depan adalah untuk meningkatkan permintaan dan menghindari deflasi.…
    18 Agu
    18 Agu
  • Inflasi pada bulan Juli 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,4 bps, hingga menjadi 1,54% (YoY). Bahkan, inflasi MtM pada bulan Juli 2020 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,1% – tingkat terendah dalam 10 bulan terakhir. Adapun penurunan inflasi tersebut disumbangkan oleh turunnya komponen inflasi bergejolak (sebesar 2,11 bps) dan inflasi inti (sebesar 0,19 bps). Turunnya laju pertumbuhan output yang juga disertai dengan terus menurunnya laju inflasi mengindikasikan dominasi komponen permintaan agregat, ketimbang komponen penawaran agregat dalam shock ekonomi yang dipicu oleh COVID-19. Melemahnya permintaan agregat tercermin pada menurunnya laju inflasi inti secara konsisten sejak bulan Maret, sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap krisis ekonomi COVID-19 baik dalam bentuk pengurangan konsumsi dan peningkatan tabungan (saving).…
    04 Agu
    04 Agu
  • Terhitung sudah lima bulan sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia pada awal bulan Maret. Masifnya penyebaran virus telah membawa dampak yang sangat besar, tidak hanya bagi kesehatan manusia tetapi juga bagi perekonomian. Berbagai kebijakan pencegahan, seperti pembatasan perjalanan antar wilayah serta pembatasan sosial, telah berdampak pada hampir seluruh sektor ekonomi. Disrupsi selama pandemi ini tercermin dalam pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan di Triwulan-I 2020 sebesar 2,97%, dibandingkan dengan konsensus di sekitar 3,5-4,0%. Kontributor utama PDB, seperti sektor manufaktur, perdagangan grosir dan eceran, konstruksi, dan sektor pertambangan dan penggalian, yang secara akumulatif menyumbang lebih dari setengah keseluruhan PDB, mengalami kontraksi pada Triwulan-I 2020. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga merosot menjadi hanya 2,84%, jauh di bawah pertumbuhan 5,01% yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Gangguan permintaan domestik tercermin dari penurunan pertumbuhan di hampir semua subsektor konsumsi.…
    04 Agu
    04 Agu
Goto :